"Jika engkau bukan anak raja dan bukan anak seorang ulama, maka jadilah seorang penulis" - Imam Al Ghazali

Sabtu, 10 Desember 2016

Menengahi Konflik Bisnis Transportasi Berbasis Online vs Konvensional: Studi Kasus Go-Jek Jakarta


Kemacetan di Jakarta membuat pangsa pasar ojek berkembang pesat. Meski tarifnya tak menentu, banyak warga Jakarta dan sekitarnya yang mengandalkan ojek sebagai transportasi sehari-hari. Ojek pangkalan adalah sebuah komunitas atau paguyuban perkumpulan tukang ojek. Disana terdapat aturan-aturan baik tertulis maupun tidak. Contohnya seperti nomor antrian penumpang, jadwal narik, setoran dan sebagainya. keributan seringkali terjadi ketika ada tukang ojek dadakan yang merebut penumpang tanpa mau antri atau bergabung dalam ojek pangkalan tersebut.
Tahun 2011, muncul transportasi berbasis online di Indonesia yakni GoJek. Hadir sebagai social entrepreneurship inovatif untuk mendorong perubahan sektor transportasi informal agar dapat beroperasi secara profesional. Manajemen GoJek menerapkan sistem bagi hasil dengan pengemudi ojek yang berada di bawah naungannya. Pembagiannya adalah, 80% penghasilan untuk pengemudi ojek dan 20%-nya untuk GoJek. Saat ini anggotanya sudah mencapai ribuan driver.
GoJek menawarkan 4 (empat) jasa layanan yang bisa dimanfaatkan oleh para pelanggannya: Instant Courier (Barang), Transport (Angkutan), Shopping (Belanja) dan Corporate (Kerjasama dengan perusahaan untuk jasa kurir)

Para pengguna Gojek, harus mengunduh GoJek Mobile App dari handphone mereka, baru mereka bisa memesan layanan Gojek. Para Gojek dengan mudah mendapatkan konsumen karena sudah mengandalkan kemajuan teknologi, tanpa harus nongkrong menunggu tanpa kepastian menunggu nomor urut antrian jatah narik.

GoJek kemudian merebak menjadi salah satu kata atau topik yang bermunculan di berbagai media. Namun bukannya pembahasan mengenai keunggulan dari layanan ojek unik ini. Tetapi, yang lebih mengemuka saat ini adalah adanya konflik antara pengemudi yang bergabung dengan GoJek dengan tukang ojek pangkalan. Keberadaan layanan GoJek di Ibu Kota Jakarta mulai memicu konflik. Pelan tapi pasti, suara penolakan terhadap Gojek mulai mengalir dari para pengemudi ojek pangkalan. Mereka menganggap eksistensi Gojek mengganggu keberadaan mereka dan membuat mereka merugi. Tukang-tukang ojek yang biasa mangkal di Ibu Kota Jakarta, mulai resah dengan banyaknya pengemudi GoJek yang seliweran di jalan-jalan Ibu Kota.  Persaingan antara pengemudi Gojek dengan pengemudi ojek pangkalan memang tidak dapat dihindari. Kapolda Metro Jaya juga melihat, pro kontra yang terjadi di antara tukang ojek pangkalan dan Gojek lebih diakibatkan oleh masalah persaingan. Ojek pangkalan merasa tersaingi oleh eksistensi Gojek.


Pihak General Manager Corporate Relations Gojek, Sam Diah menyatakan bahwa pihaknya hadir untuk membantu pengemudi ojek pangkalan, dan bukan sebaliknya bersaing dengan mereka.  "Yang paling utama kami sampaikan adalah kami bukan hadir untuk berkompetisi dengan pengemudi ojek pangkalan," kata Sam Diah. Bentuk bantuan yang diberikan Gojek kepada para pengojek menurutnya adalah dengan meningkatkan penghasilan mereka dengan bantuan teknologi. Tak hanya itu, para pengojek ini juga mendapat santunan kecelakaan dan jaminan asuransi kesehatan.  Sampai saat ini, kata Sam Diah, Gojek masih membuka kesempatan bagi pengemudi ojek pangkalan untuk bergabung.


Sampai sat ini, masih belum ada solusi atas konflik antara tukang ojek pangkalan dengan Gojek. Yang lebih dibutuhkan untuk menyelesaikan konflik antara Gojek dengan para ojek pangkalan adalah
aturan yang jelas. Sejauh ini, belum ada aturan yang jelas soal Gojek ataupun Ojek Pangkalan. Sementara aturan legal belum ada, Kapolda bisa mendorong adanya kesepakatan bersama antara Gojek dengan para tukang ojek pangkalan yang tidak merugikan salah satunya.  Misalnya Gojek tidak boleh masuk komplek atau perumahan yang kecil. Biarkan itu menjadi area para ojek pangkalan. Sementara Gojek hanya untuk perjalanan dengan daerah yang lebih jauh. Atau kesepakatan lainnya yang penting tidak ada yang dirugikan.   Tanpa adanya kesepakatan, yang akan dirugikan bukan hanya Gojek dan ojek pangkalan saja, tetapi warga juga. Prinsipnya, dalam menyelesaikan konflik Gojek dengan ojek pangkalan ini, harus tidak ada diskriminasi.

Permasalahan Gojek vs Ojek Pangkalan ini, di masa silam juga pernah terjadi di moda transportasi lain yakni taksi. Di Bandung, saat taksi Blue Bird mulai boleh masuk, supir-supir taksi lokal yang kadang memakai argo kuda kemudian melakukan perlawanan yang mengerikan, taksi Blue Bird dibakar.  Namun kemudian taksi argo kuda di Bandung mulai berbenah diri dari kekerasan yang mereka pernah buat. Mereka mulai disiplin dengan argometernya, disiplin berkendara dan bahkan berseragam.  Dan sekarang banyak orang mengatakan bahwa naik taksi merek apapaun di Bandung lebih aman daripada di Jakarta. Mereka tidak ada yang bergabung dengan Blue Bird, tetapi mereka membenahi sistem mereka menjadi lebih baik.  

Pada akhirnya, segala kegiatan usaha transportasi antara ojek berbasis aplikasi online maupun juga pangkalan (begitupula mobil), harus sama-sama memahami kebutuhan dan juga kondisi masyarakat. Hal ini dikarenakan kebutuhan masyarakat merupakan cerminan akan kebutuhan pelanggan (konsumen) secara riil. Sehingga, bila ada kesepakatan dan juga sikap yang saling memahami antar pihak diharapkan akan menciptakan sebuah iklim usaha yang kondusif dan kompetitif (positif). Tentunya, perlu peran pemerintah untuk meregulasi dan mengawasi setiap kegiatan transportasi ojek ini, terlebih bila menyangkut kebutuhan masyarakat yang cukup penting dalam kegiatan sehari-hari. Selain itu, kedua belah pihak seyogyanya saling bersaing secara sehat dan "main bersih" tanpa menyebabkan konflik yang merugikan semua pihak. Mencoba untuk berorientasi kedepan, menyelaraskan resources  yang dimiliki, demi mensinergikan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tetap menjaga relasi dengan pihak-pihak yang sudah ada.

"Bagaimanapun, semua kembali  pada preferensi masing-masing individu. Yang terpenting dan paling utama adalah kualitas yang baik, adanya jaminan keselamatan, serta keamanan masyarakat nya sebagai pengguna moda transportasi ini."

..padahal naik tetangga haha
===========
Sumber referensi:

1.http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5600fb4f53445/ini-solusi-atasi-bentrokan-ojek-pangkalan-vs-ojek-online.

2.http://www.antaranews.com/berita/367727/pn-jakpus-tolak-gugatan-soal-kemacetan-jakarta

3.http://bisnis.liputan6.com/read/2471422/opini-angkutan-online-antara-kebutuhan-dan-regulasi

===========




Share:

0 komentar:

Posting Komentar

ASSALAMU'ALAIKUM.. SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA. AMBIL MANFAAT, BUANG YANG KURANG BERKENAN :)

Hit and Visitors

@yazid.ulwan / 2019. Diberdayakan oleh Blogger.

Kita dan Bangsa!

Kita dan Bangsa!
cintailah negerimu, bagaimanapun kesenanganmu dengan budaya di negeri sana, pastikan darah juang selalu lekat dihatimu

Labels and Tags

Labels

Catatan Pinggir

Menulis dalam sebuah wadah yang baik demi kebermanfaatan, ialah suatu 'kewajiban' bagi saya meski sepatah-dua patah kata saja. --Jejak--