"Jika engkau bukan anak raja dan bukan anak seorang ulama, maka jadilah seorang penulis" - Imam Al Ghazali

Selasa, 17 Januari 2017

Menakar Syak Wasangka

Hidup di tengah masyarakat yang heterogen terlebih sebuah kota besar, memiliki banyak cerita dan tantangan tersendiri bagi tiap individu. Ragam cerita, beragam pula masalah dan solusi penyelesaiannya.

Berbicara tentang demografi dan kaitannya dengan etnisitas, fakta terdapat lebih dari 1.340 suku bangsa di Indonesia menandakan bahwa ada begitu banyak keyakinan dan adat istiadat masyarakat di bumi pertiwi ini. Hal ini kemudian dianggap sebagai sebuah "kekayaan" bagi Indonesia yang mungkin tidak ditemui (atau hanya sedikit) di negara-negara belahan dunia lainnya.

Bila saya tarik waktu mundur dua dekade kebelakang, yakni kurun waktu 1990-an. Maka, ada banyak peristiwa-peristiwa atau konfik yang mewarnai perjalanan sejarah di Indonesia pada era pra-millenial. Konflik ini bermula baik dari daerah kota maupun desa, dan ihwal permasalahannya sama, konflik horizontal. Dalam cara pandang sosiologis, konflik ini biasa dikaitkan dengan masalah primordial. Begitulah pernyataan diatas kertas latarbelakang munculnya masalah sosial bangsa yang akut ini. PBB mencatat sebanyak 75% dari konflik besar yang terjadi di dunia saat ini berakar pada dimensi kultural (etnis dan kebudayaan).

Saya bukan saksi hidup yang hafal seluk-beluk perjalanan sebuah bangsa. Namun, catatan sejarah telah mendeskripsikan dengan runut ada banyak sekali terjadi konflik yang bermain di ranah hilir (sila- dicek). Hal ini membuka mata dan pikiran kita bersama bahwa memang ada yang salah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini, bahkan dalam scope yang terbilang kecil!. Sebutlah contoh itu konflik antar suku, konflik antar-ummat beragama, maupun konflik antar kelas (golongan), mungkin juga antar kampung?. Ah, apapun itu, semua seakan sama-sama tidak ada habisnya.

--Lalu, apa yang sebetulnya menjadi permasalahan ini?
Penyebabnya ialah rasa "Syak wasangka". 
syak n: rasa kurang percaya (sangsi, curiga, tidak yakin, ragu-ragu). 
wasangka/wa·sang·ka/ n: kebimbangan hati; rasa khawatir; kecurigaan;
Dari arti kata, boleh jadi disimpulkan bahwa syak wasangka adalah ketidakpercayaan seseorang atas diri dan orang lain, serta menaruh rasa kecurigaan (ketidaksukaan).
Ini bisa dikaitkan dengan istilah rasa berburuk sangka, karena keduanya memang hal yang tidak dipisahkan secara etimologi: sangka.

Pict: "what causes prejudice?"
(www.reference.com/world-view/causes-prejudice-ff38fd3c76a674b)


Mengapa syak wasangka?
Misalnya saja, konflik antar etnis dan antar golongan yang sering terjadi, kalau didalami lagi biasanya bermula dari permasalahan sederhana nan kecil, misalnya perorangan (individu). Lalu yang menjadi 'minyak' dalam api konflik itu adalah rasa syak wasangka dan soliditas in-group serta labelling out-group pada golongan tertentu. Akhirnya, satu orang di kelompok itu menaruh kecurigaan terhadap orang di kelompok lain, menyebarluas hingga menjadi menjadi konflik yang lebih besar.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang memiliki penilaian buruk dan menaruh rasa kecurigaan (syak wasangka) terhadap orang lain, antara lain sebagai berikut;

1. Adanya kategorisasi sosial, (Aku, kamu, kita & mereka)
Hal pertama penyebab  prejudice  ini adalah  terjadinya  kategorisasi; yakni masyarakat cenderung mengelompokkan orang berdasarkan karakteristik tertentu, seperti gender, kebangsaan, etnis, dan sebagainya. Itu pula yang melahirkan konflik sosial berkepanjangan, bahkan dimulai dari pembedaan pengelompokan manusianya!.

*Ilustrasi: "In groups-out groups" :D
(https://theunrecordedman.wordpress.com/2015/07/04/in-groups-out-groups/)


2. In-Group Bias

In-Group Bias adalah perasaan positif dan perlakuan istimewa seseorang kepada orang lain yang dianggap bagian dari in-group, serta perasaan negatif dan perlakuan yang tidak adil terhadap orang yang dianggap sebagai bagian out-group. Henri Tajfel (1982), menggarisbawahi motif utama dari solidaritas dalam kelompok, yaitu self-esteem: Individu berusaha meningkatkan self-esteem (harga diri) dengan cara mengidentifikasi dirinya ke dalam kelompok sosial tertentu.

3. Kegagalan berpikir logis
Belakangan ini, sering dijumpai berita Hoax dan orang-orang yang reaktif terhadap sebuah permasalahan, hal ini juga berkaitan dengan lemahnya kemampuan bernalar seseorang. Atau sopannya, ia bernalar namun kurang mau membuka diri dengan hal yang logis karena dianggap bertentangan dengan apa yang ia yakini. Kegagalan berpikir logis (the failure of logic/fallacy), menjelaskan bahwa ada suatu keadaan di mana emosi seseorang mengalahkan logikanya (untuk menerima argumen dan hal-hal yang logis).

Wait, wut?.. :
(http://www.quickmeme.com/meme/356f48)


4. Kuatnya Stereotip
Pada dasarnya stereotype merefleksikan keyakinan budaya mengenai hal tertentu. Tidak selalu negatif, tapi notabene orang menilai sebagai pandangan yang miring untuk pembenaran terhadap evaluasi orang lain. Individu dapat menginternalisasi stereotype tersebut dan menggunakannya sebagai bagian dari skema yang dimilikinya. Jika individu tidak percaya (stereotip), ia dengan mudah akan mengakui bahwa itu sebagai kepercayaan yang didukung oleh orang-orang lain.

Selain beberapa faktor diatas, adapula faktor mendasar yang barangkali sudah jadi kebiasaan sebagian besar kita. Perasaan jadi "benar" sendiri.
Kadang banyak dari kita berdalih, "benar itu yang penting gue gak ganggu lo atau dia"
Apa iya..?

Memang, sebuah kebenaran punya banyak variabel dan kriteria tersendiri. Bisa jadi, antara satu orang dengan orang lainya punya penilaian sendiri tentang apa yang dianggapnya "benar". Begitu pula dengan kesalahan. Tetapi, perlu digarisbawahi bahwa, yang namanya benar tidak hanya sebatas "gue gak ganggu", coba ditambahin lagi dengan "gue gak ganggu, dan gue (juga) sejalan dengan nilai yang ada di sini". Jika halnya seperti diatas, barulah terwujud suatu kebenaran yang relevansinya nyata, atau katakanlah diakui sebagai sebuah nilai. Dengan demikian, perasaan "syak wasangka" mungkin saja tidak hadir. Mengapa? karena orang itu sendiri yang memang tidak menghadirkan prasangka ini.

Pict: "betrayal"
(http://9gag.com/gag/aYN8gPN)


--Kembali membahas musabab konflik. Bilamana rasa syak wasangka tidak ditundukkan dengan seperangkat nilai yang diamini bersama, justru hal ini yang bukan tidak mungkin akan terus menciptakan kegaduhan. Ambil-lah contoh akhir-akhir ini, banyak orang yang perangainya biasa saja di dunia nyata, namun seakan tahu segalanya di dunia maya (padahal nyata juga). Membagi postingan ini-itu di media sosial yang mereka punya. Tapi, belum tentu ia paham dengan isinya, apalagi validitas informasi tersebut. Maka, ada baiknya demi meredam rasa sangka-sangkaan ini, di crosscheck kembali segala informasi yang kita dapat. Saya yakin, pun bila terjadi konflik, (setidaknya) hanya menimbulkan korban-korban hoax dan korban bully saja, hhe.. Yang pasti, jangan sampai menimbulkan korban jiwa!.

Oleh karena itu, sebagai akhir dari tulisan ini, yuk mari kita jadikan setiap diri kita sebagai orang yang penuh prasangka positif kepada sesama. Saling mengingatkan dengan teman, sahabat, orang-orang dekat kita, begitu pula dengan orang lain yang kita jumpai. Kuatkan ikatan kebersamaan. Karena membenci dan menaruh curiga pada seseorang biasanya sesaat, maka lebih baik mawas diri dan bijak untuk sepenuhnya menuai manfaat. InsyaAllah


Pict by: African Proverb
(http://weheartit.com/entry/164186076)


Demikian tulisan ringkas saya,
Apabila ada informasi yang kurang berkenan dari tulisan diatas, harap maklum adanya.
Terimakasih :)

"Berhati-hatilah kamu dengan berprasangka karena sesungguhnya berprasangka itu adalah sebohong-bohong ucapan" -HR. Bukhari dan Muslim





====================
[1]. Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi (Jakarta: LPFE Universitas Indonesia, 2004) h.151
[2]. Handout Psi Sosial II: Prasangka/ MM. Nilam Widyarini
[3]. KBBI: Syak, wasangka
[4]. Data Konflik Sosial, diakses dari: https://m.tempo.co/read/news/2015/05/21/078668047/konflik-yang-dipicu-keberagaman-budaya-indonesia
[5]. Prasangka dalam islam, diakses dari: http://www.islamituindah.my/jauhi-prasangka-sesama-islam
Share:
ASSALAMU'ALAIKUM.. SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA. AMBIL MANFAAT, BUANG YANG KURANG BERKENAN :)

Hit and Visitors

@yazid.ulwan / 2019. Diberdayakan oleh Blogger.

Kita dan Bangsa!

Kita dan Bangsa!
cintailah negerimu, bagaimanapun kesenanganmu dengan budaya di negeri sana, pastikan darah juang selalu lekat dihatimu

Labels and Tags

Labels

Catatan Pinggir

Menulis dalam sebuah wadah yang baik demi kebermanfaatan, ialah suatu 'kewajiban' bagi saya meski sepatah-dua patah kata saja. --Jejak--