"Jika engkau bukan anak raja dan bukan anak seorang ulama, maka jadilah seorang penulis" - Imam Al Ghazali

Rabu, 26 Desember 2018

See and interpret It!

"I'm not as good as you say, but I'm not as bad as you think".
—Ali ibn Abi Thalib (RA)


Sunda Straits. Heading to Bakauheni port (Lampung). June, 2018



Sometimes you win
Sometimes you learn

When you fall out
Then you get up

You choose the white side
They might say it's the other

You work really well
They gave nothing, they just didn't see


Have you ever heard?


This is life
So confusing
Amused
Intriguing

Will lead you to the "light"
or into the "dark"

But one thing that is certain;
The Almighty NOT disappoints Us
And He will NEVER be

So,
Don't lose hope, nor be sad (3:139)
You'll surely be victorious if you are true have in faith.

Hasta la victoria siempre!

Share:

Jumat, 02 November 2018

Negara Hukum para Begundal: Sebuah Opini terhadap Kasus Korupsi "Tugu Anti Korupsi" di Riau

Semangat anti korupsi terus digaungkan oleh berbagai elemen masyarakat di Indonesia. Khususnya, mereka yang sudah jengah melihat tingkah laku para koruptor yang makin "sekonyong-konyong" melakukan tindakan korupsi.

Tersebutlah satu kasus yang membuat gelak tawa sekaligus tanda tanya.

"18 PEJABAT TERSERET KASUS KORUPSI PEMBANGUNAN TUGU ANTI KORUPSI DI RIAU"
Kok bisa??

Ya, lucu sekali mendengar ada kasus semacam ini. Beberapa waktu lalu, ketua DPR tersandung kasus mega korupsi E-KTP, baru-baru ini Wakil Ketua DPR RI tersengat uang panas juga dalam kasus penerimaan hadiah dari utak-atik DAK.

Kembali menyoroti topik, saya haqqul yaqin sangat jarang ada kasus serupa korupsi pembangunan tugu "anti korupsi" ini di belahan dunia lainnya. Sungguh selentingan berita dan humor yang menghibur laiknya konten Majelis LucuLawak Indonesia. Memicu gelak tawa, dan di lain sisi membangkitkan amarah bagi sebagian orang yang tidak mengamini cara-cara nya.

Sudah berjalan proses persidangan, dan diwacanakan tugu yang sudah kadung berdiri tegak sejak 2016 silam itu akan menyusul dirobohkan kemudian. Seperti dilansir dari Detiknews.com pada 26 April 2018, dalam sebuah dakwaan, proyek tugu anti korupsi sekaligus pembukaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jl. Ahmad Yani, Pekanbaru Riau ini disebut menelan dana lebih dari Rp 8 Miliar dan kerugian negara ditaksir lebih dari Rp 1,23 Miliar. 

Setelah diresmikan oleh Gubernur Riau bersama dengan Ketua KPK Agus Raharjo, siapa yang tidak malu dengan kisah yang ada di balik nya?. Maka, wacana meluluhlantakkan nya dianggap sebagai opsi menarik dan balasan yang setimpal.

Belakangan, tepatnya awal November 2018, satu demi satu intrik licik para pejabat korup di Riau dalam memainkan anggaran pembangunan tugu dan pembukaan RTH mulai terkuak. Tiga orang sudah dikenakan hukuman bui, menyusul belasan lainnya--dan masih mungkin bertambah--karena ada pelaku yang mengajukan sebagai justice collaborator .

Yang jelas, korupsinya berjamaah, maka tidak ada dusta di antara satu sama lainnya. Saling seret satu sama lain untuk meramaikan "pagelaran akbar" tersebut.

Lelah rasanya melihat berita korupsi, dan lagi ketika membuka media daring ternyata salah satu rilis terkini nya diramaikan kasus-kasus korupsi baru. Bahkan ketika ingin scroll lini masa, yang nampak adalah reportase langsung OTT oleh KPK. Ah, semakin jengkel rasanya.

Saya sejatinya bukan manusia idealis, tapi juga tidak pragmatis2 amat. Seperti orang pada umumnya yang sudah gerah melihat tindak kedzaliman yang nyata kerugiannya secara materil dan immateril, tentu sebagai anak bangsa yang tengah bergerak menuju pembangunan bangsa yang kohesif dengan pembangunan karakter, saya tidak ingin berdiam diri. Mungkin teman-teman juga memikirkan hal yang sama?

Ah, lagi-lagi saya tidak ingin menggebu. Khawatir kejengkelan saya berujung pada keingintahuan dan malah (amit-amit) masuk ke kubangan yang sama. Semoga kita selalu terhindar dari tindakan demikian.

Satu penutup postingan ini, untaian nan indah dari Museum FH UI;



____________
 *Edit: paragraf 2, semulanya MPR menjadi DPR RI.

Sumber:
Chaidir Anwar Tanjug.
- https://m.detik.com/news/berita/d-4284467/geger-18-orang-jadi-tersangka-kasus-korupsi-proyek-tugu-antikorupsi?

- https://m.detik.com/news/berita/3748646/tersangka-korupsi-tugu-antikorupsi-siap-jadi-justice-collaborator

- https://m.detik.com/news/berita/d-3991458/jaksa-beberkan-trik-korupsi-proyek-tugu-antikorupsi-di-riau
Share:

Sabtu, 20 Oktober 2018

Tersentak oleh Ar-Rahman

Hari ini, masih membekas dalam benak ku ketika baru saja kemarin mengantarkan adik melakukan CT Scan di Rumah Sakit Omni, BSD Tangerang Selatan. Dari hasil pemeriksaan yang pernah dilakukan beberapa waktu sebelumnya, gejala yang dirasakan berasal dari tubuh bagian dalam. Entah apa persisnya, diagnosa mengarah pada bagian Thorax dan Paru. Aku pun menghela napas mendengarnya.

Di luar ruang pemeriksaan, Mamah dan Abi terlihat sedang berdiskusi ringan. Sambil terus berdo'a tiada henti, aku melihat Mamah mulai melantunkan Asma'ul Husna. Di sebelahnya, Abi juga tidak hentinya membaca do'a dari qur'an melalui gadget yang digenggamnya. Aku sempat berdiam diri, apa yang ku genggam hanyalah selebaran pamflet marketing RS Omni yang ku ambil dari meja registrasi di depan pintu masuk secara cuma-cuma.

Setelah menunggu sekitar 30 menit, adikku keluar dari ruangan dengan semyum di wajahnya. Seketika wajah kedua orangtua ku yang sedari tadi berkaca-kaca karena linangan air mata berubah jadi senyum yang merekah. "Alhamdulillah, mas" tutur Mamah pada adikku. Aku ingat betul kalau beberapa saat sebelumnya, Mamah memberikan nasihat pada ku tentang nikmat sehat dan mengingatkan untuk senantiasa bersyukur. Selepas itu pun kami bergegas untuk siap-siap kembali ke rumah

Di tengah perjalanan, suara adzan berkumandang. Abi menanyakan pada kami apakah ingin sholat dulu atau melanjutkan perjalanan. Tepat di depan jalan ada sebuah masjid yang berdiri kokoh di posisi hook jalan Graha Bintaro, masjid Imanuddin namanya. Tanpa pikir panjang, Abi membanting stir ke arah kiri untuk masuk areal parkir masjid. Kami pun akhirnya memutuskan untuk menunaikan sholat Maghrib terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan pulang

Setibanya di masjid, aku langsung mencari tempat wudhu untuk laki-laki yang terletak di bagian samping kiri dari areal parkiran. Setelah melepas sepasang sandal hotel yang ku pakai dari rumah, aku mulai masuk ke tempat wudhu dengan perlahan menapaki batu pijakan berbahan granit yang melintang di depan pintu masuk. Di dalam sudah banyak yang mengantre untuk wudhu. Aku pun dengan sabar menanti di keran pertama dar pintu masuk tempat wudhu.

Sebentar lagi tiba giliran ku untuk mengambil air wudhu. Suara iqomat sudah terdengar keras dari sudut masjid ini. Orang-orang mempercepat langkah mereka untuk masuk ke dalam tempat sholat masjid yang ada di lantai 2.

Tak disangka, saat aku baru saja ingin menyalakan keran air, seorang bapak di sampingku menepuk pundak ku seraya berkata "tolong antarkan saya nak, ke depan situ".

Aku yang sedari tadi menunggu untuk mendapat giliran wudhu, mengurungkan niat sedikit untuk membantu bapak ini menuju aula lantai 1 di bagian bawah. Sementara takbiratul ihram sudah berlangsung. Aku mengantar bapak ini perlahan-lahan ke aula tersebut.

Setelah beberapa langkah, bapak ini agaknya berjalan cukup lama. Aku baru sadar ketika melihat kondisi beliau yang ternyata kaki-kaki nya sudah tidak bisa berjalan dengan sempurna. Setelah menyadari nya, aku pun menyodorkan tangan untuk kemudian dipegang oleh beliau. "pelan-pelan njih, pak", kata ku sambil menuntunnya.

Di aula tersebut, aku tidak melihat jamaah lainnya, tentu saja karena mereka ada di lantai 2 masjid ini. Ternyata bapak ini ingin mengambil kursi duduk nya yang terletak di aula itu. Aku mengambil dengan segera kursi itu untuk dipakainya sholat. "Terimakasih banyak ya, dik", ucapnya menutup perjumpaan singkat denganku sore itu. Setelah membalas ucapannya, aku berlari kecil untuk kembali menuju tempat wudhu tadi.

Suasana tempat wudhu sudah agak sepi. Hanya beberapa bocah terlihat masih lalu-lalang mengambil air wudhu. Aku segerakan untuk kemudian ikut sholat maghrib mendengar imam masih membaca suratul fatihah rakaat pertama.

Melewati tangga kanan yang terletak samping tempat wudhu, aku masuk ke dalam masjid dan menempati shaff bagian tengah, kira-kira shaff urutan ke 6 dari tempat imam. Begitu mengikuti sholat, imam membaca basmallah dengan tidak dijaharkan dan masuk ke bacaan surat thiwal mufashal. Yang dibacanya adalah surat Ar-rahman.

"Fabi ayyi alaa irabbikuma tukadziban". Seketika penekanan nada yang agak tinggi oleh imam membuat mataku berlinang air mata. Allahu!, aku tersentak begitu mendengar ayat ini. Pikiranku masih pada bapak yang ku tuntun tadi, mengingat perangainya yang bahkan tidak ku tatap dengan penuh. Terlintas juga di kepala ku mengingat adik yang baru saja menjalani tes kesehatan terhadap apa penyakit yang sedang ia rasakan. Aku tak kuasa menahan rasa pada rakaat ini. Tapi tidak juga berlarut pada keseluruhan sholat karena khawatir timbul ketidakkhusyukan ku.

Selesai sholat, aku berdoa, untuk diri ku, keluargaku, kawan-kawan dan sanak saudara ku seperti biasanya. Tapi satu hal yang berbeda, aku mengkhususkan doa-doa itu untuk kesehatan mereka semua. Betapa berharganya nikmat kesehatan bagi kita untuk tetap bisa beraktivitas seperti biasanya. Bekerja, menuntut ilmu, bermain dengan teman, atau sekadar sehat saja untuk melanjutkan hidup mengais nikmat yang diberikan-Nya.

Dari sini, aku mendapat pengalaman berharga. Bahwa apa yang dimiliki kita semata-mata hanyalah titipan dari-Nya. Kesehatan yang didapatkan juga merupakan pemberian dari Allah, Yang Maha Kuasa. Semoga kita bisa terus mengingat janji bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberi manfaat bagi manusia lainnya. Sebaik-baik hamba adalah yang selalu bersyukur atas apa kelebihan yang didapatkannya. MashaAllah

"Maka, nikmat Tuhan-mu yang mana lagi yang kamu dustakan?"



Waktu fajar menyingsing, 21 Oktober 2018/12 Shaffar 1440 H.
Share:
ASSALAMU'ALAIKUM.. SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA. AMBIL MANFAAT, BUANG YANG KURANG BERKENAN :)

Hit and Visitors

@yazid.ulwan / 2019. Diberdayakan oleh Blogger.

Kita dan Bangsa!

Kita dan Bangsa!
cintailah negerimu, bagaimanapun kesenanganmu dengan budaya di negeri sana, pastikan darah juang selalu lekat dihatimu

Labels and Tags

Labels

Catatan Pinggir

Menulis dalam sebuah wadah yang baik demi kebermanfaatan, ialah suatu 'kewajiban' bagi saya meski sepatah-dua patah kata saja. --Jejak--