"Jika engkau bukan anak raja dan bukan anak seorang ulama, maka jadilah seorang penulis" - Imam Al Ghazali

Sabtu, 20 Oktober 2018

Tersentak oleh Ar-Rahman

Hari ini, masih membekas dalam benak ku ketika baru saja kemarin mengantarkan adik melakukan CT Scan di Rumah Sakit Omni, BSD Tangerang Selatan. Dari hasil pemeriksaan yang pernah dilakukan beberapa waktu sebelumnya, gejala yang dirasakan berasal dari tubuh bagian dalam. Entah apa persisnya, diagnosa mengarah pada bagian Thorax dan Paru. Aku pun menghela napas mendengarnya.

Di luar ruang pemeriksaan, Mamah dan Abi terlihat sedang berdiskusi ringan. Sambil terus berdo'a tiada henti, aku melihat Mamah mulai melantunkan Asma'ul Husna. Di sebelahnya, Abi juga tidak hentinya membaca do'a dari qur'an melalui gadget yang digenggamnya. Aku sempat berdiam diri, apa yang ku genggam hanyalah selebaran pamflet marketing RS Omni yang ku ambil dari meja registrasi di depan pintu masuk secara cuma-cuma.

Setelah menunggu sekitar 30 menit, adikku keluar dari ruangan dengan semyum di wajahnya. Seketika wajah kedua orangtua ku yang sedari tadi berkaca-kaca karena linangan air mata berubah jadi senyum yang merekah. "Alhamdulillah, mas" tutur Mamah pada adikku. Aku ingat betul kalau beberapa saat sebelumnya, Mamah memberikan nasihat pada ku tentang nikmat sehat dan mengingatkan untuk senantiasa bersyukur. Selepas itu pun kami bergegas untuk siap-siap kembali ke rumah

Di tengah perjalanan, suara adzan berkumandang. Abi menanyakan pada kami apakah ingin sholat dulu atau melanjutkan perjalanan. Tepat di depan jalan ada sebuah masjid yang berdiri kokoh di posisi hook jalan Graha Bintaro, masjid Imanuddin namanya. Tanpa pikir panjang, Abi membanting stir ke arah kiri untuk masuk areal parkir masjid. Kami pun akhirnya memutuskan untuk menunaikan sholat Maghrib terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan pulang

Setibanya di masjid, aku langsung mencari tempat wudhu untuk laki-laki yang terletak di bagian samping kiri dari areal parkiran. Setelah melepas sepasang sandal hotel yang ku pakai dari rumah, aku mulai masuk ke tempat wudhu dengan perlahan menapaki batu pijakan berbahan granit yang melintang di depan pintu masuk. Di dalam sudah banyak yang mengantre untuk wudhu. Aku pun dengan sabar menanti di keran pertama dar pintu masuk tempat wudhu.

Sebentar lagi tiba giliran ku untuk mengambil air wudhu. Suara iqomat sudah terdengar keras dari sudut masjid ini. Orang-orang mempercepat langkah mereka untuk masuk ke dalam tempat sholat masjid yang ada di lantai 2.

Tak disangka, saat aku baru saja ingin menyalakan keran air, seorang bapak di sampingku menepuk pundak ku seraya berkata "tolong antarkan saya nak, ke depan situ".

Aku yang sedari tadi menunggu untuk mendapat giliran wudhu, mengurungkan niat sedikit untuk membantu bapak ini menuju aula lantai 1 di bagian bawah. Sementara takbiratul ihram sudah berlangsung. Aku mengantar bapak ini perlahan-lahan ke aula tersebut.

Setelah beberapa langkah, bapak ini agaknya berjalan cukup lama. Aku baru sadar ketika melihat kondisi beliau yang ternyata kaki-kaki nya sudah tidak bisa berjalan dengan sempurna. Setelah menyadari nya, aku pun menyodorkan tangan untuk kemudian dipegang oleh beliau. "pelan-pelan njih, pak", kata ku sambil menuntunnya.

Di aula tersebut, aku tidak melihat jamaah lainnya, tentu saja karena mereka ada di lantai 2 masjid ini. Ternyata bapak ini ingin mengambil kursi duduk nya yang terletak di aula itu. Aku mengambil dengan segera kursi itu untuk dipakainya sholat. "Terimakasih banyak ya, dik", ucapnya menutup perjumpaan singkat denganku sore itu. Setelah membalas ucapannya, aku berlari kecil untuk kembali menuju tempat wudhu tadi.

Suasana tempat wudhu sudah agak sepi. Hanya beberapa bocah terlihat masih lalu-lalang mengambil air wudhu. Aku segerakan untuk kemudian ikut sholat maghrib mendengar imam masih membaca suratul fatihah rakaat pertama.

Melewati tangga kanan yang terletak samping tempat wudhu, aku masuk ke dalam masjid dan menempati shaff bagian tengah, kira-kira shaff urutan ke 6 dari tempat imam. Begitu mengikuti sholat, imam membaca basmallah dengan tidak dijaharkan dan masuk ke bacaan surat thiwal mufashal. Yang dibacanya adalah surat Ar-rahman.

"Fabi ayyi alaa irabbikuma tukadziban". Seketika penekanan nada yang agak tinggi oleh imam membuat mataku berlinang air mata. Allahu!, aku tersentak begitu mendengar ayat ini. Pikiranku masih pada bapak yang ku tuntun tadi, mengingat perangainya yang bahkan tidak ku tatap dengan penuh. Terlintas juga di kepala ku mengingat adik yang baru saja menjalani tes kesehatan terhadap apa penyakit yang sedang ia rasakan. Aku tak kuasa menahan rasa pada rakaat ini. Tapi tidak juga berlarut pada keseluruhan sholat karena khawatir timbul ketidakkhusyukan ku.

Selesai sholat, aku berdoa, untuk diri ku, keluargaku, kawan-kawan dan sanak saudara ku seperti biasanya. Tapi satu hal yang berbeda, aku mengkhususkan doa-doa itu untuk kesehatan mereka semua. Betapa berharganya nikmat kesehatan bagi kita untuk tetap bisa beraktivitas seperti biasanya. Bekerja, menuntut ilmu, bermain dengan teman, atau sekadar sehat saja untuk melanjutkan hidup mengais nikmat yang diberikan-Nya.

Dari sini, aku mendapat pengalaman berharga. Bahwa apa yang dimiliki kita semata-mata hanyalah titipan dari-Nya. Kesehatan yang didapatkan juga merupakan pemberian dari Allah, Yang Maha Kuasa. Semoga kita bisa terus mengingat janji bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberi manfaat bagi manusia lainnya. Sebaik-baik hamba adalah yang selalu bersyukur atas apa kelebihan yang didapatkannya. MashaAllah

"Maka, nikmat Tuhan-mu yang mana lagi yang kamu dustakan?"



Waktu fajar menyingsing, 21 Oktober 2018/12 Shaffar 1440 H.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

ASSALAMU'ALAIKUM.. SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA. AMBIL MANFAAT, BUANG YANG KURANG BERKENAN :)

Hit and Visitors

@yazid.ulwan / 2019. Diberdayakan oleh Blogger.

Kita dan Bangsa!

Kita dan Bangsa!
cintailah negerimu, bagaimanapun kesenanganmu dengan budaya di negeri sana, pastikan darah juang selalu lekat dihatimu

Labels and Tags

Labels

Catatan Pinggir

Menulis dalam sebuah wadah yang baik demi kebermanfaatan, ialah suatu 'kewajiban' bagi saya meski sepatah-dua patah kata saja. --Jejak--