"Jika engkau bukan anak raja dan bukan anak seorang ulama, maka jadilah seorang penulis" - Imam Al Ghazali

Senin, 14 Januari 2019

Agama dan Realitas Sosial 1: Kebebasan Memilih

Menurut Al-Qur'an, manusia memiliki dua tabiat (nature), yakni berupa sifat-sifat baik dan terpuji, maupun sifat-sifat buruk dan tercela.

Sifat baik dan terpuji dapat dilihat dalam Al-Qur'an, antara lain manusia itu ditahbiskan sebagai "khalifah", punya leadership, bertauhid, indah, senang petunjuk, dan lain sebagainya. Adapun sifat buruk dan tercela antara lain; manusia itu zalim dan bodoh, ingkar nikmat, tergesa-gesa, kikir, suka mengelak atau membantah, berkeluh-kesah, dan semacamnya.

Namun, Islam mampu menjawab hal-hal tersebut dan mendudukkan secara objektif posisi seseorang di antara keduanya. Manusia patut mendapat pujian atau sebaliknya mendapat celaan. Hal tersebut bukan semata-mata karena manusia memiliki dualitas tabiat, melainkan bergantung pada tendensi mana yang Ia sering kerjakan. Manusia diberikan pilihan, bebas sesuai dengn martabatnya selaku khalifatul fil 'ard, untuk mengembangkan kecenderungan yang baik dan karenanya mendapat pujian--atau mengembangkan yang buruk, karenanya mendapat celaan.

Semua pilihan-pilihan itu mendatangkan risiko yang mempengaruhi kedudukan dan martabat seorang manusia. Al-Qur'an mengingatkan kita semua bahwa martabat manusia akan "meluncur" jatuh ke bawah (asfala safiliin), apabila kondisi rohani (ruhiyyah) tidak dikembangkan menjadi iman dan tidak pula dilakukan menjadi amal saleh (At-Tin 95:4-5). Bahkan, manusia diumpamakan sejahat-jahat makhluk yang melata di muka bumi, apabila mereka tidak mau beriman (Q.S Al-Anfal 8:55). 

Tentu kita sedang tidak membicarakan persoalan iman secara scientific, yang memerlukan akal dan logika manusia--yang amatlah terbatas. Namun, iman itu sendiri jauh melampaui dimensi-dimensi sains yang manusia ciptakan. 


"Into Universe" by The Cosmic Diverse

Stephen Hawking, seorang ilmuwan, astrophysicist dan kosmolog penemu teori Big-bang serta gravitasi kuantum, boleh saja mengatakan bahwa Ia tidak percaya terhadap penciptaan oleh tangan-tangan tak telihat (God creation) layaknya kita yang mengimani adanya Allah sebagai pencipta alam raya.

Tetapi, Hawking turut memberikan interpretasinya mengenai makna dari alam raya itu sendiri, yang memiliki makna Ketuhanan semesta; “Remember to look up at the stars and not down at your feet. Try to make sense of what you see and wonder about what makes the universe exist". 

Dalam konteks yang sedikit berbeda, Rene Descartes, filsuf kenamaan abad ke-17 pernah berkata dalam adagiumnya yang terkenal: "cogito ergo sum" (aku berpikir, maka aku ada). Sepintas, tidak ada yang salah dengan perkataan Descartes bagi orang yang realis, mempertanyakan keberadaan sekitar, dan mengakui keberadaan diri sendiri dengan alam fikir. Namun, bagi orang yang mengaku beriman, justru adagium itu bisa berlaku sebaliknya; "Aku ada, maka aku berpikir". Bukankah begitu?

Berbicara mengenai martabat manusia, dalam Al-Qur'an kembali dijelaskan bahwa Ia akan naik dari satu tingkat ke tingkat yang lebih tinggi apabila dikembangkan sesuai petunjuk-Nya (Q.S Al-Insyiqaq 84:19). Kemampuan rohani manusia tersebut berkembang dan bergerak linear tidak ada batasnya sehingga dikatakan manusia "lebih muliadibandingkan malaikat. Wallahu 'alam.

Dalam hal ini, seluruh bentuk kewajiban ibadah seperti; shalat, puasa, haji, adalah contoh dari riyadhah-ruhiyyah (olah rohani), yakni untuk menunjukkan pengalaman kejiwaan yang orisinil dan otentik tentang nikmatnya mengikuti petunjuk kebenaran hudan (bagi mereka yang mengimani). Secara langsung, pengalaman otentik kerohanian yang dirasakan itu akan semakin memperteguh sikap, harapan, dan cita-cita terhadap makna hidup dan realitas alam semesta, begitu pula dengan realitas sosial yang sudah barang tentu menjadi bagian di dalamnya.

Sampai pada tingkatan ini, dorongan sifat buruk dapat diyakinkan untuk "tidur", jangan sampai berkembang. Sementara, potensi sifat-sifat yang baik dilanjutkan untuk menjadi nyata, muthmainnah, yang membenarkan Allah dan tenang bersama-Nya.

Imam Al-Ghazali, menandai tingkat perjuangan seperti demikian, sebagai apa yang dikatakan "perjuangan melawan nafsu" (jihadun linafsihi). Mereka yang mampu mengendalikan nafsunya ke tingkatan muthmainnah, itulah yang akan menikmati keutuhan martabat, sehingga Allah memanggil dengan panggilan kecintaan; "Hai nafsu yang tenang, kembalilah kepada Tuhan mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba Ku, dan masuklah ke dalam Surga-Ku" (Q.S Al-Fajr 89:27-30). []

Nantikan kelanjutan part ini pada postingan berikutnya!
__________________________________
Sumber referensi:

**Al-Qur'an karim

[1]. Fatwa, A.M. (1996). "Kebebasan Memilih". Jakarta: Republika.
[2]. Fatwa A.M. (2001). "Demokrasi Teistis: Upaya Merangkai Integrasi Politik dan Agama di Indonesia". Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
[3]. Hawking, S., & Hawking, S. (1992). Stephen Hawking's A brief history of time: A reader's companion. New York: Bantam Books.
[4]. Høffding, Harald. (1916). "A Brief History of Modern Philosophy". Second Book, The Great Systems. USA.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

ASSALAMU'ALAIKUM.. SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA. AMBIL MANFAAT, BUANG YANG KURANG BERKENAN :)

Hit and Visitors

@yazid.ulwan / 2019. Diberdayakan oleh Blogger.

Kita dan Bangsa!

Kita dan Bangsa!
cintailah negerimu, bagaimanapun kesenanganmu dengan budaya di negeri sana, pastikan darah juang selalu lekat dihatimu

Labels and Tags

Labels

Catatan Pinggir

Menulis dalam sebuah wadah yang baik demi kebermanfaatan, ialah suatu 'kewajiban' bagi saya meski sepatah-dua patah kata saja. --Jejak--